Mengenalkan sains kepada anak usia dini dapat dilakukan melalui kegiatan yang ekat dengan dunia bermain, rasa ingin tahu dan pengalaman konkret anak. Hal tersebut diterapkan oleh Arvina Dwi Rahmawati, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Usia Dini (PGPAUD) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam kegiatan Praktik Pendidikan Mahasiswa (PK) di TK Rumahku Tumbuh Kelas Tumbuh. Dalam kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal salah satu fenomena alam, yaitu gunung meletus, melalui perpaduan teknologi digital, pengamatan, eksperimen sains sederhana, dan aktivitas seni. Pengenalan diawali dengan memanfaatkan gambar dan tayangan visual digital mengenai gunung berapi dan proses terjadinya letusan. Melalui media tersebut, anak memperoleh gambaran mengenai fenomena yang sulit diamati secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Anak juga dikenalkan secara sederhana mengenai beberapa material yang dapat keluar ketika gunung meletus, seperti lava, abu vulkanik, dan asap. Pemanfaatan media digital membuat pembelajaran lebih interaktif karena anak tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga dapat melihat objek dan fenomena yang sedang dipelajari secara visual.
Setelah memperoleh pemahaman awal melalui media digital, kegiatan dilanjutkan dengan eksperimen gunung meletus sederhana. Anak-anak diajak mengamati model gunung yang menghasilkan busa dan memberikan efek merupai letusan. Eksperimen ini memberikan kesempatan kepada anak untuk melihat secara langsung adanya perubahan dan proses keluarnya material dari model gunung. Anak menunjukkan antusiasme ketika melihat model tersebut menghasilkan busa seperti gunung yang sedang meletus. Pengalaman tersebut membantu menghubungkan informasi yang sebelumnya diperoleh melalui gambar dan tayangan digital dengan kegiatan praktik secara langsung. Anak dapat belajar melalui proses mengamati, mencoba, dan menyampaikan apa yang mereka lihat. Kegiatan eksperimen juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis sederhana melalui pertanyaan, pengamatan, serta diskusi mengenai apa yang terjadi selama proses berlangsung. Dengan demikian, pembelajaran sains tidak hanya berupa penyampaian informasi, tetapi memberikan pengalaman langsung yang sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini melalui bermain dan eksplorasi.
Selain eksperimen, anak-anak mengikuti kegiatan kreatif “Membuat Gunug Meletus” menggunakan gambar gunung yang sudah disediakan. Anak memberikan pewarna makanan pada bagian atas gambar gunung, kemudian meniup pewarna tersebut menggunakan sedotan hingga warna mengalir dari bagian atas menuju ke bawah dan menyerupai lava yang keluar dari gunung berapi. Aktivitas sederhana ini memberikan kesempatan kepada anak untuk menghubungkan pengetahuan mengenai gunung meletus dengan hasil karya mereka sendiri. Proses meniup menggunakan sedotan juga memberikan stimulasi terhadap kemampuan mengngontrol napas, koordinasi, konsentrasi, dan mengikuti instruksi, sedangkan kegiatan mengamati aliran warna memberikan pengalaman eksplorasi mengenai hubungan antara tindakan dan hasil yang muncul. Setiap anak dapat menghasilkan bentuk aliran warna yang berbeda sesuai dengan cara mereka meniup, sehingga kegiatan tidak menuntut hasil karya yang seragam dan tetap memberikan ruang bagi kreativitas anak. Selain mengenalkan konsep sains, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk memberikan pemahaman awal mengenai keselamatan saat terjadi bencana alam. Anak dikenalkan bahwa gunung meletus merupakan fenomena alam yang perlu diwaspadai serta pentingnya mengikuti arahan guru, orang tua, atau orang dewasa dan menuju tempat yang aman ketika terjadi bencana.
Rangkaian kegiatan tersebut turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Bermutu (Quality Education), melalui penerapan pembelajaran yang aktif, kreatif, interaktif, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Perpaduan teknologi digital, eksperimen sains, dan kegiatan seni memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan anak mengenal fenomena alam melalui melihat, mencoba, mengamati dan berkarya. Bagi mahasiswa PGPAUD, kegiatan Praktik Pendidikan Mahasiswa juga menjadi pengalaman untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus belajar menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Sementara bagi anak-anak TK Rumahku Tumbuh kelas Tumbu, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna dalam mengenal dunia di sekitar mereka. Melalui pendekatan tersebut, fenomena gunung meletus yang sebelumnya mungkin sulit dibayangkan dapat diperkenalkan dengan cara yang sederhana dan dekat dengan dunia anak. Antusiasme selama kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran sains sejak usia dini dapat dikemas melalui pengalaman bermain yang menarik, sekaligus menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan ketertarikan anak terhadap berbagai fenomena alam di lingkungan sekitar.
Penulis: Arvina Dwi Rahmawati
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Praktik Pendidikan Mahasiswa (PK)
